Selasa, 23 Februari 2021

 

BLOG SEBAGAI PEMBENTUK IDENTITAS DIGITAL

GURU MILENIAL

RESUME KEENAM:

Oleh Ati Rohaeti


 

“Jika pada tahun 1984, dunia ditandai sebagai era bonanza minyak. Maka, hari ini adalah era keterbukaan. Di mana pada masa ini komponen kehidupan diberikan kebebasan berpendapat dan berkarya tanpa sekat wilayah dan jarak untuk berkomunikasi dengan manusia di lahan dunia mana pun.”

J

umat, 15 Januari 2021 adalah hari di mana saya mendapatkan pelatihan belajar menulis keenam. Tidak terasa saya telah mengikuti kelas daring ini selama kurang lebih satu minggu. Saya bersyukur dengan adanya kegiatan semacam ini sebab ilmu berdatangan dari berbagai macam orang. Meskipun saya sempat melewatkan dua kali pelatihan, tetapi tidak ada rasa menyesal telah bergabung dengan grup ini. Ya, sebagai seseorang dengan multiperan pasti terkadang melewatkan banyak hal bukan? Begitulah saya saat ini, tetapi kesempatan ini saya tidak ingin sampai melewatkannya.

Tepat pukul 19.00 WIB, saya mengikuti pelatihan keenam ini dengan prinsip bahwa saya tidak akan melewatkan kesempatan sebaik ini. Awal pelatihan dibuka oleh Om Jay –sapaan akrab kami padanya. Dilanjutkan oleh moderator bernama Sucipto Ardi yang biasanya dipanggil dengan sebutan Pak Cip. Jalannya pelatihan diambil alih oleh beliau dan dibuka dengan perkenalan singkatnya. Selain itu, ia pun menjabarkan agenda malam ini yang terdiri atas:

1. Pembukaan

2. Paparan narasumber

3. Tanya jawab

4. Penutup

Setelah Pak Cip menyampaikan agenda pelatihan kali ini, kini giliran beliau mengenalkan narasumber. Ia bernama Theresia Sri Rahayu, S.Pd., SD., atau Cikgu Tere, seorang wanita yang hebat dan sukses dalam menulis. Bahkan berdasarkan tautan yang dikirimkan Pak Cip tentang narasumber, saya terkagum-kagum melihat prestasi yang menghiasi blognya. Cikgu Tere telah menerima best achievement dan tembus di atas angka 30. Tidak diragukan lagi alasan beliau menjadi pemateri malam ini.

TEMA pelatihan keenam ini adalah “Blog sebagai Identitas Digital Bagi Guru Milenial”. Ketika mendengar tema ini saya bertanya-tanya apa identitas sebenarnya kami, bagaimana membangun identitas baru, atau mengapa mesti blog yang dijadikan identitas digital. Semua itu berputar dalam benak saya dan jawabannya ada pada pematerian kali ini.

Cikgu Tere memulai penjabaran materi dengan mengajak peserta berselancar pada laman Google. Beliau menginstruksikan kami untuk mengetik nama lengkapnya dan lihat apa yang ada pada hasil penelusuran. Ya, namanya dapat ditemukan dalam berbagai literatur yang bertebaran di internet. Beliau juga sedikit bercerita tentang perjalanannya memulai sebagai seorang bloger.

Tahun 2019 adalah tahun krusial baginya sebab dirinya mengikuti kegiatan shortcoz ke luar negeri. Aspek yang wajib dilakukan peserta kegiatan tersebut adalah dengan mencantumkan aktivitas media sosial yang dimilikinya sebagai bahan seleksi panitia. Ia ingat telah mencantumkan alamat blog dan akun Facebook. Pada saat itu, blog yang dicantumkan adalah blog dengan domain Kompasiana. Ia sempat khawatir karena blog yang ia cantumkan bukanlah blog pribadi.

SEJAK SAAT ITU, Cikgu Tere membangkitkan kembali semangat menulisnya dengan membuat blog pribadi sebagai tempat berkaryanya. Di saat itulah ia mulai menghubungi dan bertemu dengan Om Jay. Tebak apa yang terjadi? Cikgu Tere diberikan kesempatan untuk bergabung dalam pelatihan belajar menulis pada gelombang empat. Keinginan kuatnya ini menjadikan beliau sebagai penulis blog dengan level yang tinggi.

Ia tidak hanya berperan sebagai seorang guru, ia juga berperan sebagai seorang penulis, dan ia ingin dikenal sebagai guru yang handal menulis, serta guru yang aktif sebagai bloger. Ia merasa lega dengan identitas barunya sebagai guru-penulis dan guru-bloger sebab dapat memanfaatkan sebuah platform demi tujuan yang bermanfaat. Hal ini juga didukung dengan karakteristik cikgu Tere yang senang menulis hal-hal atau peristiwa yang dialami beliau saat berada di lingkungan sekolah, misalnya di situasi pandemi saat ini yang mengharuskan guru dan siswa untuk Belajar Dari Rumah (BDR). Ia pun senang mengikuti penelitian dan segala hal yang dapat membangun wajah dirinya sebagai guru, penulis, dan bloger dalam waktu bersamaan.

Ketika ia menggunakan identitasnya sebagai guru dan mulai menuliskannya dalam blog. Di situlah ia menyadari bahwa komunikasinya yang terekam jejak digital menciptakan identas ia sebagai guru, penulis, dan bloger. Maka, ia paham betul pentingnya menciptakan gambaran diri sendiri.

Identitas ibarat merek dagang. Ketika seseorang ingin mengenalkan dirinya dan dikenal luas oleh orang lain, kita mesti membangun karakter yang tepat bagi diri kita. Terutama guru pada masyarakat milenial saat ini. Guru wajib memproduksi karya, jangan sampai berhenti mengikuti pembaharuan sebab peserta didik pun berkembang dan belajar dengan cepat. Menurut Cikgu Tere, salah satu cara membangun identitas kita sebagai guru milenial ialah dengan memanfaatkan blog sebagai akses digital.

Blog dipilih sebagai akses digital termudah bagi guru karena platform tersebut terbilang mudah dan murah. Tidak hanya memberikan peluang guru sebagai penulis, tetapi memberikan guru peluang sebagai content creator. Lalu bagaimana membuat konten digital yang baik? Guru sebagai calon bloger harus memahami dahulu kompetensi digital. Di dunia pendidikan kompetensi digital digunakan agar teknologi yang dipakai meyakinkan, tepat, dan aman untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan. Ini bahkan sejalan dengan pernyataan Digcom 2.0, European Comission (2015) bahwa salah satu kompetensi digital yang perlu dikembangkan adalah kemampuan untuk menciptakan konten digital, dalam hal ini adalah konten blog yang menarik dan berkualitas.

CIKGU TERE menambahkan, bahwa kita sebagai seorang guru harus menguasai kompetensi digital sebab saat ini sudah memasuki abad ke-21. Di mana program literasi sebagai fondasi diharuskan berkembang menjadi literasi digital. Kemampuan ini wajib dimiliki oleh guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. Literasi digital ini dapat dijadikan sebagai konten digital dalam blog. Beliau bahkan mengatakan bahwa blog adalah media dan sumber belajar dengan model blended learning –pembelajaran kombinasi antara daring dan luring.

Seorang guru yang merangkap sebagai penulis dan bloger harus membuat konten digital menarik dan berkualitas. Tujuannya agar konten digital sampai pada siswa yang merupakan generasi milenial dengan kecakapan digital yang cepat. Pada kesempatan ini, Cikgu Tere memaparkan tips untuk menciptakan konten blog yang menarik dan berkualitas sebagai berikut.

1. Hindari plagiasi (buat konten yang orisinil).

2. Mudah dipahami dan diterapkan.

3. Tulislah konten yang singkat, padat, dan jelas.

4. Kombinasikan tulisan dengan gambar atau video.

5. Buatlah Konten Up to Date!

6. Bebas berita bohong atau hoaks. Gunakan prinip saring sebelum sharing.

7. Ciptakanlah Engaging Content.

8. Lakukan pengeditan mandiri untuk menghindari kesalahan tulis.

Hal terakhir yang ia sampaikan dalam pelatihan keenam ini terkait guru sebagai pendidik sudah dibekali dengan kemampuan lebih. Kemampuan di mana guru ikhlas dalam membagikan ilmu yang telah dimiliki kepada peserta didik dan orang lain. Maka, bukan hal aneh apabila guru mampu mengelola blog –menjadi seorang bloger— dengan baik lewat tulisan-tulisan yang bermanfaat. Kesempatan ini digunakan untuk membangun identitas guru yang lebih hebat.

SAYA berharap semakin banyak orang yang membaca blog-blog yang bermanfaat, seperti blog guru saat ini. Pun berharap guru mampu membuat konten digital yang menarik untuk pembelajaran dan literasi sekolah yang lebih baik. Dengan mendengarkan pertemuan ini, saya menjadi lebih menyayangi blog saya dibanding sebelumnya. Jujur, identitas digital akan sempurna jika kita siap menggunakan teknologi itu sendiri.

Akhir kata, terima kasih Cikgu Tere sudah menginspirasi saya. Semoga blog saya dapat memberikan identitas digital sebagai guru-penulis dan guru-bloger seperti tema kali ini. Tentunya saya berharap makin banyak orang yang berkunjung pada blog saya dan memberikan komentar berupa kritik dan saran yang membangun. Sampai jumpa di resume selanjutnya dan terima kasih.

 

Salam Literasi.

 

TEBAR SEMANGAT MENULIS

LEWAT GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS)

RESUME KELIMA:

Oleh Ati Rohaeti



 “Buku ibaratkan menjadi setawar dan sedingin. Artinya buku sebagai penghibur hati. Perasaan manusia dideskripsikan dalam buku dengan lengkap, ada yang berkisah tentang pilu, gundah, bahagia, tegang, dan mencekam. Semua itu tidak lain memberikan penyegaran bagi daya imajinasi seseorang.”

 

R

asa syukur kupanjatkan tidak hentinya atas nikmat sehat dan rasa semangat untuk menggali ilmu. Waktu malam yang biasanya digunakan untuk bersantai dan terlelap tidur telah saya investasikan pada kegiatan belajar menulis ini. Ya, pelatihan belajar menulis yang diadakan lewat grup Whatsapp. Grup yang isinya tidak lain rekan dan mentor yang sama-sama ingin mengenal seni menulis dengan baik. Meskipun pada kenyataannya saya merasa paling tidak paham di antara yang lain. Terbukti dari tulisan rekan satu grup yang sudah ‘mapan’ dibanding dengan saya. Namun, itu tidaklah menyurutkan hasrat saya. Saya tetap maju dan pantang menyerah.

Keputusan saya untuk menciptakan perubahan ini tidak hanya menguntungkan bagi saya saja. Hal ini dikarenakan manfaat menulis sendiri begitu banyak, mulai dari terekspresikannya perasaan kita, sebagai teman bicara, interpretasi kisah orang lain, sebagai penyegaran, dan bekal pengetahuan di masyarakat. Akan tetapi, sebelum merasakan manfaat atau hak kita sebagai penulis, ada hal yang mesti diperhatikan.

Pertama, seseorang akan mudah menulis dan manfaatnya sampai, apabila orang tersebut juga mengapresiasi karya orang lain. Manakala seorang penulis tidak membaca atau mengapresiasi karya yang lain, rasa tulisannya akan hambar. Sebab, kita tidak terbiasa dengan ragam kata, kalimat, istilah, dan ungkapan yang digunakan dalam menulis. Kedua, sebagai penulis atau calon penulis mesti memahami kebutuhan bacaan masyarakat saat ini. Jangan sampai tulisan kita hanya goresan tinta pada kertas semata. Bukankah itu sia-sia?

Berdasararkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi penulis diperlukan langkah awal yakni menjadi pembaca dan pengapresiasi. Tujuannya agar calon penulis kelak mampu menciptakan karya yang bermanfaat. Berbicara tentang membaca, sudahkah kita membaca sekurang-kurangnya 100 buku? Pertanyaan ini sangat berkaitan dengan materi pertemuan pelatihan belajar menulis kali ini. Berikut ulasan pertemuan tersebut, selamat merenungi.

RABU, 13 JANUARI 2021 adalah hari di mana kami –peserta pelatihan menulis— berkumpul pada pertemuan kelima. Acara yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIB ini berjalan dengan lancar seperti biasanya. Pada pertemuan kelima yang dipandu oleh Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd. ini sukses menarik perhatian. Bukan hanya karena materinya sangat berkaitan dengan kami yang notabene pendidik, tetapi peserta begitu terpukau dengan prestasi moderator asal Lebak, Banten ini. Mungkin pembaca tulisan saya sudah tidak asing dengan sosok beliau.

Di samping hebatnya moderator pelatihan kali ini, kami juga disegarkan dengan materi yang erat dengan profesi kami. Materi tersebut dibawakan oleh Bapak Bambang Purwanto, S.Kom., Gr., yang akrab disapa dengan Mr. Bams. Beliau adalah Ketua Tim Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP Taruna Bakti dan aktif dalam tulis-menulis. Karyanya sudah dapat dinikmati pembaca di manapun.

Mr. Bams yang dikenal aktif sebagai pegiat literasi ini juga berperan sebagai guru, perangkat desa setingkat RW, pekerja sosial, dan pendongeng. Beliau juga menciptakan taman baca bagi masyarakat setempat. Dengan banyaknya peran yang diambil tidak menyurutkannya terus menerbar semangat literasi, seperti tema pematerian kali ini.

Pematerian yang dibawakan Mr. Bams ini bertema “Menebarkan Semangat Hobi Menulis untuk Gerakan Literasi Sekolah (GLS)”. Ini alasan mengapa materi kali ini sangat erat dengan profesi kami. Sebab, pendidik sudah seyogyanya menciptakan sindrom membaca bagi anak didiknya. Tentu, kita sebagai contoh pertama mereka. Akan tetapi, nyatanya tidak banyak sekolah yang sudah melakukan gerakan literasi. Satu dan lain hal mungkin melatarbelakanginya, tetapi ini tidak dapat terus menjadi alasan gerakan literasi ini tidak terjalankan. 

Nah, pada kesempatan ini kami diminta untuk turut serta menebarkan semangat hobi menulis melalui gerakan literasi di sekolah. Sebagai informasi, literasi tidak melulu tentang membaca, tetapi juga menulis. Namun, keduanya sangat berkaitan satu sama lain sehingga untuk menjalankannya itu selalu berdampingan dan berurutan.

MENURUT MR. BAMS, dalam menjaga semangat dan kemampuan menulis, kita juga harus disibukkan dengan melakukan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Tentunya sebagai pendidik harus tidak asing lagi dengan istilah tersebut. Harapannya program literasi sekolah ini berjalan secara masif. Dengan muatan program yang sederhana dahulu seperti membaca lima belas menit, pojok baca, pohon literasi, dan tantangan baca di sekolah bagi guru dan siswa.

Program yang diciptakan lewat pembiasaan, pengembangan, dan pembudayaan hasil akhir berupa karya literasi peserta didik dan guru ini menjadi wadah. Wadah menghidupkan kembali semangat menulis. Lihat saja bagaimana Mr. Bams mampu meraih berbagai penghargaan bidang literasi. Itu sebab kerja kerasnya menciptakan budaya baca yang strategis bagi kedua elemen penting: peserta didik dan pendidik itu sendiri.

Pertanyaannya, bagaimana jalan menulis ini diciptakan melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS)? Mr. Bams menjawabnya melalui program GLS yang menarik bagi peserta didik. Dengan memberikan fasilitas berupa buku bacaan, membiasakan membaca kitab suci agama yang dianut masing-masing, dan menulis sebagai bentuk ekses dari kegiatan baca. Selain menciptakan pembiasan-pembiasaan tersebut, pendidik pun diharuskan menjadikan program ini lebih menantang dan menarik dengan diadakannya evaluasi berupa perolehan poin.

Jalan seperti inilah yang ditempuh oleh pemateri pelatihan kelima ini. Bayangkan ketika putra-putri atau peserta didik kita mampu membaca buku, menceritakannya, dan membuat karya yang menginsipirasi. Sebab, seperti di awal, buku itu pelipur lara. Kita dapat membayangkan menjadi siapa saja, dapat terinspirasi oleh hal baik, dan menjadi seseorang yang cerdas dengan hanya membaca buku. Ini juga harus menjadi cambuk bukan untuk peserta didik saja, tetapi pendidiknya pun harus melek bacaan sehingga dapat menulis karya yang cocok untuk bacaan sekolah atau sekadar memotivasi peserta didik lewat stimulant gurunya. Hebat bukan?

Kebanggaan ini semakin berharga apabila di antara banyaknya peserta didik, ada yang benar-benar terinspirasi oleh tindakan dan karya kita. Bahkan saya menjadi semakin bersemangat untuk melanjutkan perjalanan saya dalam tulis menulis. Inilah pemantik yang disulutkan pada kami oleh Mr. Bams selama pembelajaran menulis. Beliau pun demikian, untuk melahirkan karya ia harus menebarkan hobinya tersebut. Jadi, sudah siapkah kita menjadi pegiat literasi?

Setidaknya bagi saya, literasi ini membawa kembali api semangat dalam diri untuk tetap menulis. Rasa iri terhadap karya yang dibaca akan membuat kita semakin gelisah dan terus mencoba menciptakan ragam karya, membuat kita tidak puas untuk menebar kebaikan lewat tulisan, dan semakin menciptakan kita sebagai seseorang yang rendah hati lewat apresiasi pembaca kita. Sebab itu, saya membuat bentuk pemaksimalan GLS sebagai berikut.

1.      Tantang Literasi Bagi Peserta Didik

Peserta didik mungkin tidak akan cepat tergugah jika buku bacaan awal mereka adalah buku ilmiah. Untuk itu, distimulasilah mereka lewat buku fiksi dengan ketentuan yang telah disediakan. Tujuannya agar peserta didik meningkat minat bacanya. Sebagai contoh, dalam budaya masyarakat, orang tua seringkali membacakan buku cerita anak. Ini menjadi fondasi mengapa buku fiksi dipilih sebagai pemicu katarsis tersebut. Setelah peserta didik tertantang, maka menulis pun akan mengikuti. Mungkin awalnya tulisan mereka akan memiliki gaya yang sama dengan buku yang dibacanya, tetapi lama-kelamaan mereka akan memiliki gaya tersendiri. Tantangan ini pun berlaku bagi pendidik sebagai contoh pertama di sekolah.

2.      Fasilitas Buku Lewat Penggalangan Dana atau CSR

Agar peserta didik dan pendidiknya ikut terpacu dalam mengikuti program literasi sekolah, tentu diperlukan fasilitas yang sepadan. Minimal, buku-buku yang banyak ragamnya tersedia di sekolah. Nah, jalan ini telah dibukakan selebar-lebarnya oleh banyak perusahaan atau individu. Setiap perusahaan besar dipastikan wajib memiliki CSR nya sendiri. CSR diibaratkan ruang bagi perusahaan untuk memberikan pengabdian bagi masyarakat. Salah satunya melalui CSR Gramedia Utama memberikan banyak buku bernilai jutaan yang memang tidak dapat dibeli oleh rata-rata wali peserta didik di sekolah. Kesempatan ini menjadi motivasi bagi peserta didik untuk terus membaca.

Adapun dana individu adalah dana yang diberikan oleh perorangan sebagai bentuk kepeduliaan mereka terhadap tingkat baca di masyarakat. Dana seperti ini selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha. Peserta didik yang mungkin ogah-ogahan baca jadi ingin terus baca sebab fasilitas yang memadai dan buku yang menarik.

3.      Optimalkan How to Write

Dalam mengoptimalkan gaya menulis saya, saya lebih menekankan how dibanding what kepada peserta didik. Mereka akan lebih terasah kemampuan menulisnya sebab mereka tahu bagaimana cerita diawali, diisi, dan diakhiri. Ini pun berdampak bagi saya dalam menyusun karya.

Berdasarkan ketiga butir tersebut, saya mampu berdiri dengan bangga apabila mampu menebarkan semangat literasi kepada peserta didik atau rekan sejawat saya di sekolah. Ketiga hal itu akan tercapai jika semua bahu membahu, serta kita tidak mudah goyah hanya karena merasa tidak mampu.

“Di masa sekarang dan masa depan, saya ingin karya saya menjadi setawar dan sedingin bagi semua orang yang membacanya.”

 

Salam literasi.

 

 TUJUH HARI TAKLUKAN TANTANGAN MENULIS BUKU NONFIKSI

RESUME KEDUAPULUH SATU:

Oleh Ati Rohaeti 



“Ada berair juga rupanya, berhasil juga rupanya. Tidak satu hal pun di dunia yang tidak akan berhasil jika niatnya adalah niat kebaikan. Maka, menciptakan buku dalam tujuh hari bukanlah bohong belaka jika kita berusaha.”

 

P

elatihan belajar menulis keduapuluh satu ini dilaksanakan Jumat (19/2) dengan Ibu Musiin, M.Pd., sebagai narasumber dan dipandu Ibu Sri Sugiastuti sebagai moderator. Tema pelatihan kali ini yakni “Menaklukan Tantangan Menulis Buku Nonfiksi 7 Hari”. Sebelum moderator memandu pelatihan dan diskusi malam tersebut, Om Jay sebagai pelaksana membuka pelatihan belajar menulis ini dengan salam dan sapa. Ia bahkan menyegarkan kembali ingatan peserta tentang program menulis dan berbicara PGRI pada malam sebelumnya. Setelah itu, barulah moderator mengambil alih jalannya diskusi.

Pertama, ia memperkenalkan narasumber. Ibu Musiin atau lebih dikenal dengan Ibu Iin merupakan alumni belajar menulis asuhan Om Jay. Beliau aktif dalam menulis buku nonfiksi dan karyanya berhasil diterbitkan oleh penerbit mayor. Bahkan buku terbitan tersebut dipajang pada rak-rak buku toko sekelas Gramedia. Sebuah kebanggaan tersendiri sebagai peserta pelatihan yang sama dapat memiliki alumni yang sukses.

 



Kedua, moderator mempersilakan narasumber untuk menyapa dan menceritakan perjalanan karirnya dalam bidang tulis-menulis. Bu Iin mengatakan bahwa dirinya seorang alumni kelas menulis Om Jay Gelombang Ke-8 yang juga mendapat kesempatan dan tantangan menulis Prof. Eko. Beliau menjelaskan bahwa ia dan delapan orang lainnya berhasil menaklukkan tantangan menulis dan buku mereka telah berhasil dipajang di toko Gramedia secara daring dan luring. Buku tersebut berjudul “Literasi Digital Nusantara Meningkatkan Daya Saing Generasi”. Berkat Prof. Eko dan wadah pembelajaran inilah Ibu Iin dapat memproduksi karya yang bermanfaat bagi sesama.

BELIAU kemudian melanjutkan kisahnya dengan menceritakan sosok bernama Prof. Eko yang pernah menjadi pemateri dalam tantangan menulis nonfiksi. Baginya Prof. Eko ibaratkan seorang Master Chef dengan keahlian menggunakan ragam bahan dapur untuk dijadikan berbagai santapan yang lezat. Bahan masakan ini adalah pilihan yang ada pada diri setiap masing-masing di antara kita. Sementara santapan lezat adalah hasil dari proses memilih kita. Jika Ibu Iin ditanya dari mana ilham dan ide tersebut datang, datangnya dari pilihan-pilihan yang disediakan oleh Prof. Eko untuk kita. Bahkan biarpun beliau bertitel guru besar tidak menyurutkan kreativitasnya dalam membuat beragam konten edukasi seperti pada Prof EKOJI Channel miliknya.

Pilihan dalam diri kita diolah menjadi sebuah tulisan. Tulisan yang menampilkan pengetahuan, pengalaman, kegemaran, cerita, atau kisah-kasih. Semua itu adalah buku yang belum sempat dikeluarkan. Cara mengeluarkan pilihan tersebut ialah dengan menulis dan menantang diri kita untuk menyelesaikannya dalam waktu singkat, seperti tema malam ini.

Sebelum merancang sebuah tulisan, kita harus menemukan alasan kuat berkeinginan menjadi seorang penulis. Alasan kuat itu saya gambarkan dalam tiga hal: (1) Saya ingin dapat mewariskan ilmu lewat buku atau tulisan lainnya, (2) Saya ingin memiliki karya yang terpajang pada etalase toko buku daring dan luring sekelas Gramedia, dan (3) Saya ingin profesi saya sebagai guru berkembang. Dengan tiga alasan tersebut cukup untuk menunjukkan tekad saya dalam menulis.

PEMATERI selanjutnya masuk pada bagian utama tentang karya tulis nonfiksi. Ia menyebutkan bahwa karya tulis nonfiksi dituliskan dalam tiga pola yang berbeda. Tiga pola tersebut antara lain:

1.   Pola Hierarkis, buku disusun berdasarkan tahapan mudah ke sulit atau sederhana ke rumit. Salah satubuku nonfiksi dengan pola ini adalah buku pelajaran.

2.  Pola Prosedural, buku yang disusun berdasarkan urutan proses. Salah satu contohnya adalah bukupanduan atau resep.

3.   Pola Klaster, pola ini disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan pada bukubuku kumpulan bab, bagian, antarbab, atau subbab. Salah satu buku dengan pola bab antara lain buku penelitian atau esai ilmiah.

Berdasarkan ketiga pola tersebut, karya Ibu Iin merupakan karya yang berpola klaster. Bukunya yang berjudul Literasi Digital Nusantara ini terbagi atas beberapa bab dan subbab. Pembagian ini memudahkan penjelasan butir ke butir dengan jelas dan mendetail. Sementara peserta memahami ketiga pola tersebut, Ibu Iin kemudian mulai membahas lima langkah proses penulisan buku yang terdiri atas tahap pratulis, tahap menulis draf, tahap merevisi draf, tahap menyunting naskah, dan menerbitkan. Dari kelima langkah tersebut, empat langkah dilakukan secara perorangan. Sementara menerbitkan bukanlah bagian dari proses menulis, ini lebih cocok dikatakan sebagai bagian produksi di luar kepenulisan. Berikut penjelasan keempat langkah tersebut.

1.  Pratulis, ialah kegiatan sebelum menuliskan sesuatu. Langkah ini merupakan langkah dasar seseorang menjabarkan maksudnya ke dalam sebuah karya tulis. Biasanya dalam langkah pratulis ada kegiatan semisal: menentukan tema, ide, merencanakan jenis tulisan, mengumpulkan bahan tulisan, bertukar pikiran, menyusun daftar, melakukan penelitian, membuat peta pikiran, hingga menyusun kerangka tulis.

    Tema dapat ditemukan pada buku. Ada tema buku tentang pendidikan, teknologi, ekonomi, hingga parenting. Tema dalam buku Ibu Iin misalnya, ia mengangkat tema tentang edukasi atau pendidikan.

    Ide buku haruslah menarik, baru, dan orisinil. Penulis dapat menemukan ide melalui pengalaman pribadi, orang lain, berita di media massa, status pada media sosial, imajinasi, pengamatan lingkungan, perenungan, dan membaca buku atau apresiasi karya lain. Ide yang didapat Ibu Iin berasal dari pengamatan lingkungan, berita media massa, hingga diperkuat oleh materi Prof. Eko yang berjudul Digital Mindset: The Key to Transform your Organization. Materi tersebut tayang pada saluran Youtubenya pada tanggal 20 Maret 2020.

    Referensi atau sumber acuan dapat berupa data atau fakta. Dalam kasus Bu Iin, ia mendapatkan ragam referensi lewat internet, antara lain pengetahuan dan keterampilan formal, nonformal, dan informal, pengalaman sejak balita, penemuan, dan pemikiran hasil perenungan.

     Kerangka tulis yang digunakan Bu Iin dalam menciptakan karyanya terdiri atas empat lima dengan ruang lingkup utama literasi digital. Pada bab I, Ibu Iin menuliskan tentang penggunaan internet di Indonesia. Bab II, media sosial. Bab III, hakikat literasi digital. Bab IV, ekosistem literasi digital di nusantara. Bab terakhir yakni bab V menjabarkan literasi digital untuk membangun digital mindset warga internet +62. Berikut contoh penulisan bab dan subbab buku nonfiksi.

      Kutipan:

      BAB I PENGGUNAAN INTERNET DI INDONESIA

      A.      Pembagian Generasi Pengguna Internet

      B.    Karakteristik Generasi dalam Berinternet

               (Musiin, Literasi Digital Nusantara)

       Sementara kerangka lain yang melibatkan keseluruhan buku disebut anatomi buku. Berikut anatomi buku nonfiksi pada umumnya:

1)      Halaman Judul

2)      Halaman Persembahan (Opsional)

3)      Halaman Daftar Isi

4)      Halaman Kata Pengantar (Opsional, minta kepada tokoh yang berpengaruh)

5)      Halaman Prakata

6)      Halaman Ucapan Terima Kasih (Opsional)

7)      Bagian /Bab

8)      Halaman Lampiran (Opsional)

9)      Halaman Glosarium

10)  Halaman Daftar Pustaka

11)  Halaman Indeks

12)  Halaman Tentang Penulis

  2.   Penulisan draf, rancangan atau konsep yang telah selesai wajib dituliskan. Langkah kedua  ini         memiliki prinsip bebas di mana konsep yang dituliskan tidak mementingkan kesempurnaan.  Akan tetapi, penulisan draf ini lebih pada bagaimana ide dituliskan.

  3. Revisi draf, ini melibatkan estetika tulis suatu karya. Apabila di langkah kedua tidak mementingkan kesempurnaan, maka pada tahap ketiga ini baik sistematika maupun struktur tulisan dan penyajian wajib direvisi agar memberikan gambaran besar dari naskah secara jelas.

 4.Penyuntingan, beda halnya dengan revisi draf yang berkisar pada perbaikan ide tulisan, penyuntingan lebih difokuskan pada penggunaan bahasa pada karya tersebut. Baik ejaan, tata bahasa, diksi, data-fakta, maupun legalitas dan norma.

Kadang kala tips lebih mudah dibaca dibanding dilakukan. Ini berlaku bagi saya dalam pertemuan kali ini, sebab masih saja ada hambatan yang seringkali muncul tidak terduga. Hambatan-hambatan menulis ini dapat disebabkan karena waktu, daya kreativitas kita, teknis, tujuan, dan psikologis. Jika melihat dampaknya, hambatan psikologis adalah hambatan paling berat. Penulis seringkali terhambat urusan waktu pengumpulan karya. Selain itu, hambatan psikologis yang sering kali terjadi adalah rasa rendah diri terhadap karya sendiri. Hal tersebut dapat dijadikan peluang, tentunya dengan cara-cara yang mengurangi stres kerja. Misalnya membaca buku, mencari inspirasi di lingkungan sekitar atau lewat narasumber, disiplin menulis setiap hari, dan pergi melakukan hobi untuk meningkatkan mood kita.

Demikian materi cara menaklukkan tantangan menulis nonfiksi selama tujuh hari yang Ibu Iin berikan. Semoga saya dan rekan-rekan saya memiliki kesempatan dan masa keemasan seperti beliau berkat karyanya. Tidak ada kesempatan untuk mundur saat ini, melangkah maju dan melampauinya!

 

Salam Literasi.

Jumat, 19 Februari 2021


Pembelajan PPKn " Bela Negara"

 Pertemuan ke-6, Senin 22 Februari 2021



Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarokatuh.Kali ini kita masuk pada pembelajaran PPKn pertemuan ke-6. adapun topik yang akan

dibahas adalah

"Bela Negara". Materi ini sudah disampaikan minggu kemarin Senin, 15 Februari 2021.

Tentang Unsur dan Sifaf- Sifat  Bela Negara.

Bagaimana dengan tugas-tugasnya sudah dikerjakan? Bagi yang belum mengerjakan

tugas mangga segera kerjakan dan yang masih belum lengkap atau masih bolong-

bolong, segera lengkapi yah!

Kali ini Ibu akan menyampaikan Materi Bela Negara, antara lain: 

A. Peraturan Perundang-Undangan yang mengatur Bela Negara.   

     Terdapat beberapa    peraturan perundang-undangan yakni:

1. UUD Negara RI Tahun 1945 

    BAB XII Pasal 30 ayat ( 1,2,3,4 dan 5 )

2. Ketetapan MPR RP No IV/ MPR/ 2020,  Ketetapan MPR RI. No VII/ MPR/ 2020.

3. Undang-Undang RI No 2 Tahun 20002, Undang-Undang RI. No 3 Tahun 20002,

dan Undang-Undang RI No 34  Tahun 20002.

B. Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Pada saat mewujudkan Kemerdekaan, bahkan  setelah kemerdekaan berhasil dicapai

oleh  bangsa Indonesia, baik perjuangan perjuangan Fisik maupun perjuangan melalui

jalur diplomasi.

Contoh Perjuangan Fisik Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia 

  1. Insiden Bendera di Surabaya

  2. Pertempuran lima hari di Semarang

  3. Pertempuran di Surabaya tanggal 10 November 1945

  4. Pertempuran di Ambarawa

  5. Pertempuran Medan Area

  6. Bandung Lautan Api

  7. Pertempuran Margarana

  8. Perlawanan terhadap Agresi Militer Belanda

  9. Perang Gerilya


Untuk mengenang Jasa pahlawan pejuang kemerdekaan mari kita saksikan dan simak 

Video pertempuran surabaya 10 november 1945 - YouTube. Link Video di bawah ini.


 https://www.youtube.com/watch?v=Zxe-I1npT1I

Perjuangan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia Melalui Jalur

Diplomasi, antara lain:

  1. Perjanjian Linggarjati

  2. Perjanjian Renville

  3. Perjanjian Roem Roijen

  4. Konferensi Meja Bundar



C. Semangat dan Komitmen Persatuan dan Kesatuan Nasional dalam Mengisi

dan Mempertahan Negara Kesatuan Republik Indonesia

  1. Upaya Mengisi dan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia

  2. Mewujudkan Bela Negara dalam Berbagai Aspek Kehidupan

  SOSIALISASI  SEKOLAH TANGGAP BENCANA  JUMAT, 30 OLTOBER 2026 DI SMP NEGERI 12 BANDUNG Sekolah telah berhasil meletakkan fondasi budaya sad...